Google+ Followers

Thursday, March 21, 2013

Tersengat Pesona Negeri Gurindam


Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.

Itulah kedua bait yang dicuplik dari Gurindam 12 yang terkenal itu. Gurindam Dua Belas merupakan puisi (yang juga telah dilagukan), hasil karya Raja Ali Haji, seorang sastrawan dan pahlawan nasional dari Pulau Penyengat, propinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Propinsi hasil pemekaran dari propinsi Riau itu menaungi lebih dari 2.000 pulau besar dan kecil yang 30% di antaranya belum bernama dan berpenduduk. Luas wilayah Kepri lebih dari 250.000 km2 dan sekitar 95% merupakan lautan. Kepri menjadi propinsi ke-32 pada tahun 2002 yang mencakup kota Tanjungpinang, kota Batam, kabupaten Bintan, kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten kepulauan Anambas, dan kabupaten Lingga.

Dari atas pesawat Jakarta-Batam sebelum mendarat di bandara Hang Nadim kita dapat melihat ribuan pulau-pulau hijau di tengah lautan hijau tosca yang mengilat, sungguh pemandangan yang dramatis. Dari udara ini kita juga bisa melihat kemegahan jembatan Barelang yang menghubungkan pulau Batam dengan pulau-pulau di sekitarnya yaitu Pulau Tonton, Pulau Galang, dan Pulau Rempah. Sungguh, dari udara Kepri bagaikan untaian mutiara yang sudah mengundang decak kagum bahkan sebelum kita mendarat.

Kami memasuki Kepri dari Batam karena dari Jakarta paling banyak penerbangan menuju Batam. Walaupun tujuan utama dalam trip kami adalah pulau Bintan dan Pulau Penyengat, namun kota Batam merupakan pintu masuk yang nyaman. Hampir setiap jam ada kapal yang berangkat dari pelabuhan Punggur Batam menuju Tanjungpinang. Kapal bertarif Rp 40.000 sekali jalan ini cukup nyaman, berpendingin udara, dengan waktu penyeberangan kurang-lebih 1 jam. 

Pulau Bintan



Pulau Bintan adalah pulau terbesar di kepulauan Riau, dan di pulau ini pula terletak kota Tanjungpinang yang menjadi ibukota Kepri. Dibandingkan dengan pulau Batam yang terletak di sebelahnya, mungkin kedua pulau ini dapat diibaratkan dua saudara, yang satu lebih kaya tapi kurang tampan, dan yang satunya lagi kurang kaya namun lebih menawan dibanding saudaranya. 

Ya, Bintan memang menawan dengan pantai-pantainya yang berpasir putih di bawah langit yang biru. Breathtaking, yang menjadi slogan pariwisata Bintan, memang tidak berlebihan. Namun dari sisi ekonomi terlihat Batam lebih maju dengan kekuatan industrinya yang terus berkembang sehingga banyak fasilitas dan infrastruktur lebih tersedia di Batam. Memang kedua saudara ini memiliki daya tariknya masing-masing.

Sebagai tujuan wisata, tentulah Bintan lebih menonjol. Ada yang menyebut  pulau Bintan sebagai pulau kedua setelah Bali sebagai daya tarik wisata andalan Indonesia. Namun selama bertahun-tahun, pesona ini bagaikan rahasia yang tersimpan dengan baik yang malah lebih diketahui orang asing dibanding orang Indonesia sendiri. Baru belum lama ini Bintan semakin banyak dikunjungi pelancong domestik, walaupun data dari beberapa resor yang kami tanyai di Bintan lebih dari 90% pengunjungnya adalah turis dari negara tetangga Singapura.

Karena itu, ketika pertama diajak oleh teman untuk trip ke Bintan, saya awalnya menolak. Bintan yang saya tahu adalah resor-resor yang menawarkan kemewahan dan kefanaan sedangkan saya belum merasa ingin berfoya-foya untuk saat ini. Tetapi ternyata setelah saya pelajari lebih lanjut mengenai sejarah dan daya tarik budaya Melayu dan Tionghoa yang mewarnai kehidupan di Bintan, saya pun berubah pikiran.

Mengelilingi pulau Bintan dengan mengemudi sendiri, kita dapat melihat langsung kehidupan yang menggeliat di pulau yang perekonomiannya disokong oleh pariwisata ini. Selain resor-resor yang tergabung dalam Bintan Resor di kawasan Lagoi di Bintan utara, ada juga resor-resor yang lebih terjangkau di Bintan bagian timur (Pantai Trikora). Objek-objek wisata ini dapat ditempuh dengan berkendara sekitar 1 hingga 2 jam saja dari pusat kota Tanjungpinang.

Panas yang sangat menyengat menyambut kami ketika tiba di pelabuhan Tanjungpinang, dan sepanjang perjalanan kami di Bintan kami dihadiahi cuaca yang sangat cerah. Langit yang sangat biru dan bersih namun udara juga sangat panas. Tidak lama setelah kami berkendara di pulau Bintan, kami menyadari hampir semua mobil dilengkapi kaca film yang sangat gelap bahkan pada kaca depan, sehingga kita tidak dapat melihat wajah pengemudi dari arah depan.

Dari Tanjungpinang kami langsung menuju pantai Trikora yang berjarak kira-kira 1,5 jam perjalanan. Di sepanjang pantai timur ini banyak pilihan resor yang menawarkan berbagai fasilitas relaksasi, restoran, dan juga sebagian menawarkan snorkeling dan diving. Pemandangan pantai khas Bintan adalah pasir yang amat putih, di beberapa tempat ada pantai berkarang yang mirip di Belitung, serta adanya kerambah (kelong dalam bahasa Melayu) yang menghiasi pemandangan pantai.

Ada juga beberapa resor yang khusus menarget pengunjung yang suka memancing, seperti Kolam Kelong Trikora yang secara tidak sengaja kami temukan pada malam hari. Inilah yang saya sukai dengan road trip, seringkali menemukan kejutan yang menyenangkan. Tempat ini menawarkan penginapan yang cukup terjangkau, serta letaknya yang menjorok ke laut memberikan suasana yang sangat berbeda.

Kelong adalah bahasa Melayu untuk menggambarkan struktur lepas pantai yang dibangun dari kayu untuk menangkap ikan. Saat ini banyak kelong yang berubah fungsi karena pemilik kelong membuka kelongnya untuk para pemancing yang ingin memancing di laut dalam, dengan menyediakan penginapan dan fasilitas yang sangat terjangkau (bila dibandingkan dengan tarif resor-resor di Bintan, apalagi resor di daerah Lagoi).







Keesokan harinya kami mengunjungi daerah Bintan Resort di Lagoi. Kami tidak menginap di sini karena tarifnya sebagian besar di atas 150 SGD per malam. Di sini ada resor-resor internasional seperti grup Banyan Tree, Club Med, dan sebagainya. Salah satu yang paling terkenal adalah Bintan Lagoon Resort yang menawarkan sea view golf yang disebut-sebut padang golf terindah di Asia Tenggara.

Sebagian resor ini menawarkan penyeberangan langsung dari dan ke Singapura dengan loket imigrasi tentunya. Penyeberangan dari Singapura ke Lagoi ditempuh kurang dari 1 jam saja, sehingga banyak pula yang menawarkan fasilitas meeting room yang dapat dipakai pada hari kerja oleh pengunjung dari negeri tetangga tersebut. Letak Bintan yang sangat dekat dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia ini juga menjadi salah satu aset yang dioptimasi oleh pemerintah setempat. 

Pulau Penyengat



Kunjungan ke Bintan tidak lengkap tanpa kunjungan ke pulau Penyengat, bahkan ada yang bilang belum ke Bintan kalau belum ke Penyengat. Tampaknya tidak berlebihan karena di sinilah dapat kita saksikan sisa-sisa bukti kebesaran kerajaan Melayu di masa lalu. Pulau Penyengat sangat dekat dari Tanjungpinang, dari dermaga tinggal menyeberang dengan perahu angkut (Pongpong) bertarif Rp 5.000 sekali jalan.

Begitu menginjakkan kaki di pulau Penyengat kita seolah dikelilingi nuansa kuning, dan tentu saja destinasi yang paling tersohor di sini adalah Masjid Sultan Riau yang sering juga disebut Mesjid Penyengat. Mesjid ini salah satu kebanggaan bangsa Melayu yang dibangun atas prakarsa Raja Abdurrahman (Yang Dipertuan Muda Riau VII) pada 1 Syawal 1249 H (1832 M). Konon mesjid ini dibangun menggunakan putih telur sebagai perekat dan kuning telur dalam catnya. 



Kunjungan ke mesjid ini sangat penting bagi mereka yang ingin mengagumi kebudayaan Melayu. Di sini masih tersimpan kitab-kitab kuno serta yang paling menarik adalah kitab Alquran tulisan tangan. Kemegahan mesjid kuning yang menjadi ikon pulau Penyengat ini sudah terlihat dari pantai Tanjungpinang.

Wilayah kepulauan Riau pada masa lalu adalah salah satu perairan yang penting dalam lalu lintas perdagangan internasional. Banyak pedagang dari berbagai negera, tidak hanya Asia, tetapi juga Timur Tengah dan Eropa, yang singgah ke pulau Penyengat untuk mengisi persediaan air tawar.

Pulau mungil berukuran 2.500 x 750 meter ini dapat dikelilingi dalam waktu 1 jam dengan becak motor (bemor) yang merupakan fasilitas pariwisata yang tersedia di sana. Tarif naik bemor Rp 25.000 per jam membawa kita ke obyek-obyek wisata seperti Makam Engku Putri Raja Hamidah, Makam Raja Haji Fisabillilah, Makam Raja Jakfar, Makam Raja Abdurrahman, dan Balai Adat Indra Perkasa. Pada dinding Balai Adat ini kita dapat melihat teks lengkap Gurindam Dua Belas serta foto tokoh-tokoh Melayu di masa lalu termasuk yang turut berjuang melawan VOC. Kunjungan yang singkat ke pulau mungil ini adalah kunjungan yang padat dan kaya dengan budaya dan sejarah.

Tanjungpinang



Ibukota propinsi Kepri ini tak kalah menariknya dan penting untuk dikunjungi. Di sini kita dapat melihat pembauran budaya Melayu dan Tionghoa yang kental. Anak-anak mengenakan seragam sekolah khas Melayu dan encim-encim berbahasa Hokkian adalah pemandangan sehari-hari. Mesjid yang agung berpadu dengan wihara nan megah juga tak jarang ditemui.

Karena masih serumpun dengan Malaysia dan Singapura, maka budaya dan kuliner di sini mirip dengan kedua negara tetangga itu. Bahkan istilah yang digunakan untuk teh dan kopi sama dengan di negara jiran. Misalnya ada istilah teh O dan kopi O, teh Obeng, dan teh tarik tentunya. Di sini dapat ditemui kopi dan teh tarik otentik yang rasanya sama seperti di Malaysia atau Singapura.

Karena itu kunjungan ke Akau Potong Lembu adalah keharusan. Ini adalah pusat kuliner terlama dan terbesar di Tanjungpinang, letaknya di jalan Potong Lembu. Tempat ini adalah hawker center yang menyediakan berbagai pilihan makanan (sebagian besar makanan khas Bintan), suasananya mirip pusat kuliner yang ada di Singapura.

Yang wajib dicoba di sini menurut saya adalah siput Gonggong, otak-otak, sop ikan dan teh tarik. Siput gonggong jarang ditemui di tempat-tempat lain, sementara otak-otak juga merupakan salah satu kuliner khas Bintan, terdiri dari berbagai pilihan bahan dari ikan, udang, dan sotong. Dalam perjalanan dari Tanjungpinang ke Pantai Trikora kami juga beruntung menemui penjual durian di sepanjang jalan.

Trip ini menjadi begitu lengkap dan kaya: pemandangan alam, wisata budaya dan sejarah, serta wisata kuliner. Negeri Gurindam ini memang menawan. Hati-hati Anda akan tersengat pesonanya.






2 comments:

  1. jadi kangen makanan otentik tanjung pinang... roti prata, teh tarik, otak-otak, sate berhalia, roti jala. Belum kesampean makan nasi lemak otentik sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. semua yang otentik memang paling oke.... Thanks untuk komennya dan selamat utk komunitas Jakarta otentik. And Nice blog you got too...

      Delete