Google+ Followers

Tuesday, May 21, 2013

Mencari Shangri-la





Shangri-la adalah negeri fantasi, sebuah desa di lembah yang tersembunyi di balik gunung-gunung tertinggi di dunia. Jauh dan sulit dicapai, ketinggian serta ketiadaan kemudahan untuk mencapainya membebaskannya dari kontaminasi dunia luar. Di sana penghuninya hidup dalam kedamaian dan harmoni, di bawah naungan puncak gunung yang bercahaya seperti perak di malam hari. Bulan biru yang magis terkadang menampakkan sinarnya, penduduk hidup bahagia hingga tak pernah menua.

Semua kebutuhan penghuninya tersedia, mereka tiada berkekurangan, bahkan dapat menikmati kemewahan. Mereka juga disajikan hal-hal yang mereka sukai seperti buku-buku dan musik klasik yang menjadi kenikmatan rohani kaum intelektual. Di sana waktu seolah berhenti, kita pun memiliki waktu seperti yang tak pernah kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Shangri-la membius dan membuai, pesonanya membuat siapa saja yang datang ke sana menjadi lemah dan kehilangan dirinya.

Seperti itulah Shangri-la yang dilukiskan dalam buku klasik (tahun 1933) berjudul Lost Horizon karangan penulis Inggris James Hilton. Buku ini sangat populer di kalangan pejalan, sudah dua kali difilmkan, serta menjadi salah satu buku yang menginspirasi dan mengawali obsesi-obsesi menahun kaum pejalan tentang daerah Himalaya dan sekitarnya. Obsesi pada ketinggian dan keterpencilan. Obsesi tentang dunia timur yang mistik dan eksotis.



Shangri-la pun lalu menginspirasi perusahaan yang mendirikan jaringan hotel internasional dengan nama yang sama. Konsep “heaven on earth” pada nama Shangri-la begitu menarik dan menjual. Pada tahun 2001 China mengganti nama sebuah kota tak jauh dari perbatasan Tibet, yaitu Zhongdian, menjadi Shangri-la. Gagal mendapatkan izin masuk Tibet bulan Maret yang lalu, ke kota inilah kemudian kami berkunjung.

Xiangkelila

Agar dapat ditulis dalam aksara China, kata Shangri-la pun harus mengalami transliterasi menjadi Xiānggélǐlā (香格里拉). Beberapa tahun yang lalu dalam catatan-catatan perjalanan rekan backpacker, masih banyak petunjuk jalan yang belum diganti, masih menggunakan nama sebelumnya yaitu Zhongdian. Tapi kini saya temui kata Xiangkelila sudah merasuk ke mana-mana, tak ada seorang pun yang kami temui yang tidak mengetahuinya. Pejalan maupun lokal (bukan pejalan) mengenal Shangri-la sebagai tujuan wisata tersohor, baik bagi yang sudah pernah ke sana maupun yang belum pernah ke sana. Semua menyebut Shangri-la sebagai tempat yang indah. “Xiangkelila hen mei,” demikan kata orang-orang.

Sebagai salah satu destinasi paling tersohor di China, kunjungan ke Shangrila biasanya dibarengi dengan kunjungan ke beberapa kota menonjol lainnya di propinsi Yunnan. Propinsi di ujung barat China yang berbatasan dengan Tibet serta Asia Tenggara ini sering disebut-sebut sebagai tempat asal nenek moyang bangsa Indonesia.

Karena berada di ketinggian 3200 meter di atas permukaan laut (mdpl), biasanya tidak disarankan untuk kita yang terbiasa bermukim di dataran rendah untuk langsung mendarat di Shangrila. Kami menempuh rute: Jakarta-Kun Ming- Dali-Lijiang-Tiger leaping gorge-Deqin-Shangrila-KunMing-Jakarta. Rute yang luar biasa, ketika saya melihatnya sekarang. Melewati musim semi di pedesaan dan barisan gunung-gemunung berselimutkan salju. Sebagian dari gunung-gunung itu ketinggian puncaknya melebihi 4500 mdpl.

Karena itulah, sebelum berangkat dalam trip ini, rasanya gugup sekali. Banyak kecemasan. Belum pernah saya merasa segugup ini, bagaikan baru pertama kali bepergian. Mau packing pun bingung. Apa yang sebaiknya dibawa, sementara bawaan tidak boleh berlebihan. Membawa bawaan yang terlalu berat hanya akan merepotkan diri sendiri. Haruskah saya bawa koper atau carrier? Membawa carrier dengan baju hangat, betapa beratnya harus menggendong semua beban itu di pundak.. akhirnya aku memutuskan membawa sebuah koper kecil dengan sebuah ransel (backpack).

Walaupun sudah pernah mengalami bagaimana rasanya suhu -20 derajat Celcius (baca: Harbin), masih saja ada kecemasan untuk trip kali ini. Karena kami akan melakukan perjalanan ini ala backpacker serta melewati dan mengunjungi tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 4000. Cemas akan kedinginan, high altitude sickness, cemas akan dataran tinggi yang tipis oksigen sehingga perlu mengenakan masker, dan sebagainya.

Ternyata semua syukurlah telah berlalu dengan baik-baik saja. Kami memasuki Shangrila melalui kota kecil Deqin yang terletak sekitar 80 km dari perbatasan Tibet. Kota Deqin terkenal dengan keindahan Meili Snow Mountain atau Kawa Kerpo dalam bahasa Tibet, sebuah puncak gunung yang disucikan penduduk setempat. Selain itu, keindahan kota Deqin yang sering disebut-sebut dalam catatan perjalanan justru adalah pemandangan dalam perjalanan mencapainya.

Pemandangan dalam road trip Shangrila-Deqin dan sebaliknya Deqin-Shangrila adalah salah satu pemandangan dalam perjalanan terbaik yang pernah saya alami. Lima jam perjalanan tidak terasa sama sekali, dengan suguhan pemandangan gunung-gunung bersalju yang tak ada habisnya. Kamera tak berhenti beraksi, walaupun rasanya lebih puas bila menikmati dengan mata telanjang, tapi rasanya tak tahan untuk ingin mengabadikan dan membawa pulang pemandangan indah ini. Kami juga melintasi gunung Baima yang puncaknya mencapai 4900 mdpl. Sopir mobil sewaan kami bertanya apakah kami mengalami pusing-pusing atau mual atau gejala-gejala high altitude sickness yang lain? Syukurlah, tak seorang pun dari kami merasakannya.



Di antara beberapa tempat wisata favorit di Shangrila akhirnya kami hanya memilih Songzanlin Monastery (it’s a must!), sebuah biara Tibetan yang berdiri megah menggapai langit biru, dan Shika Mountain (ketinggian di atas 4.500 mdpl). Selain itu kami hanya lingering di kota tua Shangrila, menikmati tari-tarian Tibet yang dipertunjukkan setiap malam di Dancing Square, berjalan-jalan santai di kota yang menyenangkan itu, main ke pasar tradisional, naik bus umum... merasakan apa yang dirasakan penduduk setempat.

Walaupun udara dingin (mencapai -4 derajat Celcius di malam hari), tapi di siang hari matahari bersinar sangat terik. Langit sangat biru, udara sangat cerah dan bersih, sinar matahari menusuk tajam bagaikan sangat dekat. Orang-orang tua berwajah legam dan keriput adalah pemandangan picturesque yang mudah ditemui di Shangrila selain biarawan-biarawan (monk) Tibetan yang mengenakan jubah merah marun. Kami bertanya-tanya apakah keriput itu adalah hasil akibat sinar UV yang kuat, entahlah. Masih banyak juga penduduk yang mengenakan pakaian tradisional suku-suku minoritas, menjadikan tempat ini surga bagi para fotografer.

Bersantai di kota tua Shangrila, di salah satu dari guesthouse yang bertebaran, dengan segala kebutuhan ada di sana, buku-buku dan musik serta makanan yang enak dan murah, rasanya memang bisa lupa waktu dan lupa diri. Terbebas dari segala tuntutan, bebas untuk menjadi siapa yang kita inginkan, memiliki waktu yang bebas kita gunakan untuk diri kita sendiri, membuat kita berpikir, yah, mungkin ini memang Shangri-la. Dan ke tempat inilah kita akan selalu kembali. Karena untuk itulah kita bepergian; untuk mencari, dan menemukan dan kemudian mencari lagi, Shangri-la kita.

7 comments:

  1. Anonymous3:35 PM

    Hi Mei, ceritanya sangat menarik dan bermanfaat. Semoga nanti kami tidak kedinginan di bulan Oktober/November dimana sudah mulai winter. Keep writing...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thx anonymous.. Semoga nanti winternya cukup bersahabat ya.. Have a pleasant journey...

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. Hi Mei, nama saya Bonai dari Malaysia. Boleh saya dapatkan email address? Mahu berbincang berkenaan blog. Atau boleh email saya dahulu di bonai99@gmail.com

    Terima kasih ye!

    ReplyDelete
  3. Hello Mei!! I see you have not been "goodthings" in a long time and I was just wondering if there anyway you can delete this blog, so I can use this awesome domain name.. I'm assuming you don't use it anymore since nothings been posted in 8 years.. I completely understand if you don't want it. Just thought I should ask..

    Hope to hear from you soon!

    ReplyDelete
  4. hai mey,,, aq berminat dengan blogmu yang lowongan.blogspot.com
    kalau boleh mau tak beli 500 ribu rupiah, boleh gak?
    kalau boleh km hubungi HPku: 085852176642

    ReplyDelete
  5. Hai mas Eko, pls email me aja, meixia @ gmail.com

    ReplyDelete