Google+ Followers

Thursday, August 13, 2015

Irkutsk, Lake Baikal, Khuzir


Danau Baikal adalah danau dengan volume air tawar terbesar di dunia dan juga sekaligus paling dalam. Disebut “Pearl of Siberia” danau yang terletak di antara wilayah Irkutsk Oblast dengan Buryat Republik, termasuk danau paling jernih dan paling tua di dunia. Usianya mencapai 25 juta tahun. Kota terdekat untuk mengunjungi danau Baikal yang menjadi salah satu pemberhentian Trans Siberia yang paling populer adalah Irkutsk. Dulu saya pernah menonton acara adventure di televisi dimana seseorang naik kereta Trans Siberia dari Moscow ke Irkutsk (kereta Trans Siberia jurusan Moscow-Vladivostok). Dari Irkutsk ia melanjutkan perjalanan dengan mobil four wheel drive ke danau Baikal. Pemandangan pegunungan dengan landscape yang luas terlihat sepi dan bernuansa adventurous. Waktu itu saya tidak menyangka bahwa suatu hari saya akan sampai juga ke Irkutsk dan danau Baikal. Sama halnya saya tidak mengira bahwa tempat ini sudah menjadi demikian touristic, sehingga nuansa adventour agak berkurang.

Danau Baikal dikelilingi oleh pegunungan. Ada juga pulau-pulau di dalam dan di sekitarnya, pulau terbesar adalah pulau Olkhon. Sepanjang 72 km, pulau Olkhon adalah pulau di dalam danau yang ketiga terbesar di dunia. Dengan keunikan dan keragaman landscape-nya, pulau ini menjadi tempat yang harus dikunjungi di Danau Baikal. Desa terbesar di pulau ini adalah Khuzir, dimana kami menginap dua malam di penginapan paling terkenal di sana, yaitu Nikita Homestead.

Melanjutkan cerita sebelumnya, dari St Petersburg perjalanan dilanjutkan dengan pesawat S7 ke Irkutsk. Penerbangan ini dilakukan pada malam hari, dan tiba besok paginya di Irkutsk, dengan transit di Moscow. Penerbangan St Petersburg ke Moscow hanya satu jam, dan tidak ada perbedaan waktu di antara keduanya. Kami tiba di bandara Irkutsk pukul 09.30. Perbedaan waktu Irkutsk dan Moscow/St Petersburg adalah 5 jam (lebih maju).

Bandara Irkutsk cukup sederhana, hanya ada beberapa ruang conveyor belt untuk pengambilan bagasi yang hanya dibuka ketika pesawat tiba dan ada petugas yang menjaga. Terdapat pusat informasi di sini, yang menjadi tempat pertama kami setelah selesai mengambil bagasi. Petugas informasi di sini tidak bisa bahasa Inggris, tetapi sangat ingin membantu. Ia mengeluarkan handphone-nya dan meminta kami mengetik di Google Translate. Dari sini kami mengetahui informasi bagaimana mencapai Khuzir.

Kami naik angkot nomor 20 dari bandara ke pusat kota, yang ternyata tidak jauh. Tarif naik angkot ini sebenarnya 12 rubel, tapi kami di-charge 50, karena membawa koper. Tak apalah daripada tidak diterima naik angkot, seperti angkot sebelumnya yang menolak kami.



Kami diturunkan di suatu tempat dimana kami masih harus berjalan kaki untuk mencapai stasiun bis. Sepanjang perjalanan ini kami melihat banyak rumah tradisional dari kayu dengan jendela yang cantik-cantik. Ketika diturunkan dari angkot nomor 20, kami agak bingung. Untunglah ada seorang pemuda (yang kemudian kami tahu bernama Roma) yang mengantar kami hingga ke stasiun bis. Bahasa Inggris dia juga terbatas, namun sudah cukup untuk menjadi penerjemah kami. Ia yang membantu kami membeli tiket minivan sampai Khuzir, dan juga ia memastikan kami naik ke minivan tersebut sebelum meninggalkan kami. Sungguh kami beruntung, karena selain menerima pertolongan di saat membutuhkan, juga minivan akan berangkat segera, kalau tidak salah waktu itu pukul 11 siang.

“Minivan Lokal” vs “Minivan Turis”

Perjalanan ke Khuzir memakan waktu 5-6 jam (sudah termasuk penyeberangan ke pulau Olkhon dengan ferry). Sepanjang perjalanan pemandangannya perbukitan yang tandus dan terlihat seperti kering/gersang. Kami baru tahu kemudian bahwa minivan yang kami tumpangi ini adalah angkutan penduduk lokal, maksudnya bukan yang biasanya digunakan turis. Pantas saja tarifnya murah, 475 (yang turis 800). Saya sempat khawatir jangan-jangan ini tidak sampai Khuzir (mengingat kendala bahasa serta tiketnya pun semua menggunakan bahasa Rusia). Tapi untunglah ternyata angkutan ini memang benar mengantar kami hingga desa Khuzir. Kami dimintai tambahan 125 untuk koper kami (karena ini bukan angkutan turis tadi), karena itu kami negosiasi untuk diantar hingga ke Nikita dengan tambahan tersebut. Pada saat pulang ke Irkutsk kami memesan minivan dari hostel dengan tarif 800. Minivan ini ternyata tempat duduknya lebih lega, tidak ada charge tambahan untuk koper, dan juga melewati rute yang berbeda dibanding “minivan lokal”.

Pada “minivan lokal” kami berhenti di sebuah “rest area” yang sangat eksotis dengan pemandangan pedesaan yang indah mirip New Zealand. “Warung” nya pun eksotis, rumahnya dari kayu dan menjual roti-roti daging serta minuman. Namun, toiletnya berada di luar rumah, dari kayu juga, dan… sangat horror. Toilet seadanya model begini juga saya temui nanti di pulau Olkhon, yang hanya terdiri dari sebuah lubang tempat pembuangan macam-macam barang. Tak ada flush, tak ada air, dan perlengkapan lainnya, sehingga di atas lubang itu masih berserakan benda-benda yang tak sedap dipandang mata. Sebaiknya siapkan peralatan penutup hidung daripada tidak pipis sepanjang 5-6 jam.

Perjalanan pulang ke Irkutsk dengan “minivan turis” melewati rute yang lain. Sepertinya rute ini lebih panjang dan melewati jalan-jalan yang lebih bagus (lebih perkotaan). Saya menduga “minivan lokal” kami itu mengambil jalan pintas, entahlah. Karena itu “rest area” dengan “minivan turis” juga lebih baik. Sebuah restoran dengan toilet yang decent. Jangan khawatir karena ternyata kami tidak perlu lagi menghadapi toilet horror di sepanjang perjalanan kami berikutnya.

Di resto inilah kami berkesempatan mencoba sop Rusia, yaitu Borscht atau Solyanka. Kedua soup ini sepertinya memang soup yang common, yang disediakan di resto-resto Rusia, yang dimakan bersama dengan roti. Kami pun melakukan hal yang sama, mencoba mengikuti apa yang dilakukan orang lokal. Saya lebih suka Borscht yang lebih segar dengan rasa asam, solyanka lebih creamy, namun saya sarankan untuk mencoba keduanya, karena resep kedua soup ini bisa bermacam-macam, sehingga resto yang berbeda mungkin akan memberikan rasa soup yang berbeda.



Nikita Homestead dan One Day Excursion pulau Olkhon
Nikita Guesthouse adalah penginapan pertama di desa Khuzir. Tak heran lokasinya amatlah bagus, di belakang Nikita ini mungkin salah satu tempat melihat view danau Baikal yang terbaik. Saya membayangkan mungkin dulu ketika Nikita baru membuka guesthouse ini, tempat ini begitu sepi dan misterius. Suasana mystical danau Baikal dengan segala keheningannya masih bisa terasa hingga di guesthouse. Tapi hari ini, guesthouse ini sangat ramai, kamarnya demikian banyak, begitu pula tamunya.

Saya membaca bahwa guesthouse ini selalu fully booked, karena itu kami merasa beruntung mendapat kamar di sini. Ketika tiba, kami diberitahu oleh petugasnya bahwa belum pernah ada orang Indonesia yang menginap di sini. Wow.. ah masa sih.. Berarti penulis blog yang saya baca tersebut tidak mendapat kamar di sini, tetapi mungkin dia hanya melihat dari luarnya saja, atau membaca tentangnya. Tidak seperti yang saya bayangkan, karena tempat ini cukup ramai. Kami berbarengan dengan rombongan dari Korea dan Cina. Pada makan malam hari pertama kami belum tahu bahwa kami sebaiknya datang early ke ruang makan, karena ternyata pada saat kami datang makan, banyak makanan telah habis. Soup berwarna merah (mungkin borscht) habis. Ikan omul yang menjadi juara di danau Baikal, habis juga. Kecewa sekali rasanya karena makanan enak merupakan satu hal yang sering ditulis orang tentang Nikita. Beruntung saya sempat menyapa bos Nikita pada sore tadi, sehingga ketika menyampaikan kekecewaan saya, sang pemilik Nikita ini langsung memerintahkan stafnya untuk menggorengkan ikan lagi buat kami. Walaupun ikannya seadanya, hanya digoreng buru-buru, tapi lumayanlah daripada tidak ada. Sejak itu kami selalu datang early di ruang makan, tidak ingin kehabisan lagi.

Di Nikita ini tarif menginap 1300 per person per malam, sudah termasuk makan pagi dan malam. Sepanjang hari disediakan kopi dan teh gratis. Makan malam biasanya ada salad, dan saladnya enak banget. Makan pagi yang kami temui seperti pancake, telur, dan.. di sinilah pertama kali berkenalan dengan bubur dengan susu kental manis. Pasalnya, salah seorang teman kami me-request “rice” karena sudah lama tidak makan nasi. Ternyata yang disebut “rice” atau pronounced “riz” dalam bahasa Rusia, ya itu: bubur dengan susu kental manis. Pada saat lain ketika kami hendak memesan nasi, kami tidak mengatakan “riz” karena kalau kita bilang riz keluarnya ya si bubur itu. Untunglah saya pernah memotret nasi beneran dan foto itulah yang biasanya kami jadikan alat untuk mengkomunikasikan maksud kami untuk memesan nasi.

Nikita, demikian pula penginapan lain, dapat membantu memesankan one day excursion, atau tour Pulau Olkhon (biaya 800 sudah termasuk lunch, tapi belum termasuk tiket masuk taman nasional 60). Dengan mobil semacam jeep buatan Rusia yang tangguh melewati jalan berpasir di pulau Olkhon, kita dapat menikmati view danau Baikal dari berbagai penjuru pulau Olkhon. Landscape-nya cukup beragam, vegetasinya khas, dan udara dingin walaupun matahari bersinar terik di atas. Yang paling mantap buat saya adalah makan siangnya. Makan siang ini dipersiapkan oleh Sergey, sopir jeep kami dengan peralatan seadanya seperti sedang camping. Siang itu Sergey memasak soup ikan. Kami menyantap soup itu bersama roti berwarna coklat yang dilapisi bongkahan keju yang cukup besar. Luar biasa lezat, sambil memandang danau Baikal yang biru dan tenang, sesekali sekawanan burung camar lewat di depan pondok tempat kami makan.

banyak yang meninggalkan kertas doa dan uang receh persembahan di sini.

      
Sore itu setelah excursion (selesai pukul 17.00), saya berjalan-jalan sendiri di “main street” desa Khuzir. Desa tak beraspal ini baru dialiri listrik tahun 2004, tapi saat ini terlihat cukup banyak penginapan, toko, café, dan supermarket. Sekitar 1500 penduduk mendiami rumah-rumah dari kayu di desa ini. Saya bertanya-tanya apa pekerjaan mereka sehari-hari di tempat yang jauh dan dingin ini.

Baca juga: 

No comments:

Post a Comment