Google+ Followers

Thursday, January 10, 2019

Seperti apa sih Hepatitis A itu?

Ini sudah hari ke... sekian dalam periode istirahat saya yang cukup panjang karena Hepatitis A. Akhirnya saya memberanikan diri untuk menyalakan komputer dan menghadapi derasnya aliran email yang bagaikan banjir ketika katub bendungan dibuka. Dan juga untuk menulis tulisan ini karena saya anggap penting.

Kalau mendengar kata Hepatitis, entah itu A, atau B, atau C, saya yakin banyak orang yang tidak mengerti seperti apa sebenarnya penyakit itu. Kecuali tentu saja apabila
dia berkarir di bidang medis ataupun punya kerabat yang pernah menderita penyakit tersebut. Yang ada dalam pikiran kebanyakan orang, seperti yang ada dalam pikiran
saya sendiri sebelum terkena penyakit ini adalah bahwa ini adalah salah satu penyakit yang serius. Serem. Ngeri.

Padahal yang saya alami sebenarnya tidak terlalu menyeramkan. Banyak teman yang SMS dan telepon, tetapi saya yakin, karena ceritanya terpotong-potong, mereka tidak mendapatkan gambaran yang utuh dari apa yang saya alami. Lagipula, memang satu per satu misteri terkuak melalui test darah yang dilakukan beberapa kali.

Hepatitis A ini pun baru saya konfirmasikan dengan dokter tanggal 11 Oktober yang lalu (Kamis). Padahal sudah mendapat hasil test darahnya sejak hari Senin, tetapi belum berani yakin.

Anggaplah dengan membaca cerita ini Anda bagaikan menjenguk saya secara virtual di rumah maya saya. Karena kita hidup di Jakarta yang macet dan sibuk, saya mendukung semua aktivitas yang bisa dilakukan secara virtual, sebaiknya dilakukan secara virtual saja. Tidak perlu membuang banyak waktu dan biaya dan enerji untuk transportasi.

Saya menduga penyakit ini sudah dimulai sejak saya merasa tidak enak badan hari Rabu tanggal 26 September. Hari itu saya meeting di TAM dan teman yang bersama saya Gita dan Lina mengatakan, muka saya pucat dan tangan saya dingin banget. Tapi setelah meeting masih saya paksakan untuk ke kantor, karena saya ingin ke KSEI jam 14.00, dan setelah itu kebetulan ada acara buka puasa bersama teman-teman yang tidak boleh saya lewatkan.

Sejak hari itu saya mendapat gejala seperti flu yang tidak selesai-selesai. Demam, mual, tidak napsu makan, capek. Kadang-kadang badan panas, terutama pada malam hari. Awalnya saya kira flu biasa. Saya masih masuk kantor. Lalu saya kira karena haid ketika haid saya datang. Hari Selasa tanggal 2 Oktober saya untuk pertama kalinya
cuti haid karena saya tidak tahan dengan kondisi badan saya dan perlu istirahat.

Namun keesokan harinya gejala itu masih berlanjut. Saya sudah siap-siap mau ke kantor tapi rasanya kok masih mual. Akhirnya saya tidak jadi ke kantor hari itu. Malam itu saya putuskan untuk segera ke dokter. Kebetulan hanya ke dokter umum yang ada di apartemen karena tidak ada dalam pikiran saya bahwa saya akan menderita penyakit yang serius.

Malam itu dokter Elly memberi pernyataan yang sangat mengejutkan. Dia punya alasan untuk khawatir saya menderita hepatitis, karena itu dianjurkan untuk periksa darah ke Prodia.

Saya benar-benar tidak percaya. Besoknya saya masih online dengan teman-teman kantor dan merasa saya tidak apa-apa. Saya masih mengira saya tidak perlu test darah, tetapi setelah didorong-dorong oleh teman saya, cek saja... biar yakin... ya sudah akhirnya saya pergi ke Prodia. Setelah dari Prodia, masih pergi ke supermarket dan belanja kebutuhan sehari-hari. Bahkan sangat yakin bahwa besok saya sudah bisa ke kantor.

Malamnya, ketika terima hasil test, saya sangat terkejut. Hasil test fungsi hati GOT dan GPT saya sangat tinggi. GOT yang harusnya di bawah 27, angka saya mencapai 793 ! GPT 237, normalnya di bawah 34. Kata petugas di Prodia muka saya kuning banget. Dan itu memang dikonfirmasikan oleh angka Bilirubin Total saya 6,13. Normalnya di bawah 1,1. Bilirubin Total yang tinggi berarti kulit pasien dan juga mata akan menjadi kuning. Semakin tinggi maka semakin kuning.

Awalnya saya tidak tahu dan merasa saya sudah baikan karena gejala-gejala seperti flu tadi sudah hilang. Tetapi setelah saya cari di Internet, ternyata untuk hepatitis A
memang mengalami fase-fase:

a. Masa prodromal. Gejala klinis hepatitis virus akut diawali dengan gejala infeksi virus lainnya seperti demam, lesu, mual, tidak nafsu makan, bisa juga
muntah-muntah, bahkan bisa juga disertai dengan diare, serta sakit perut khususnya di bagian kanan atas.
b. Masa ikterik. Setelah itu, si pasien akan memasuki tahapan kedua yaitu timbulnya gejala kuning ... Pada saat ini, si pasien justru merasa kondisinya secara
umum lebih baik, rasa nyeri hilang, demam reda, nafsu makan muncul kembali.
c. Masa penyembuhan. Semua keluhan hilang, pasien tidak lagi tampak kuning dan pemeriksaan laboratorium fungsi hati kembali menuju nilai normal.
d.. Fulminant hepatitis. Bila kematian sel hati berlangsung luar biasa hebatnya sehingga melampaui kapasitas hati untuk melakukan regenerasi... maka hati
pun tidak mampu mengatasi kebutuhan metabolisme tubuh alias GAGAL HATI ... alias ... LIVER FAILURE.

Berarti saya sedang dalam fase ikterik di mana kulit dan mata kuning. Dan juga kencing berwarna kuning cenderung kecoklatan. BAB juga serem, warnanya putih, pucat.

Setelah dari Prodia malam itu saya pergi ke dokter Elly lagi dan mendapatkan resep obat: HP Pro. Setelah saya search, ini semacam supplemen penguat hati saja. Dokter
mengatakan penyembuhan untuk hepatitis adalah istirahat. Saat itu belum dicek virusnya hepatitis A, ataukah B atau yang lain, karena menurut dokter treatment-nya sama saja.

Besoknya (5/10) mbak Mercy menganjurkan agar saya ke dokter internis. Biar dicek sekalian. Memang itu jalur yang harus ditempuh, katanya. Ya udah. Hari Sabtu malam
saya minta diantar ke RS PIK (kebetulan keluarga kami selalu langganan di sini), dengan dokter internis yang ada malam itu, dr Riki Tenggara.

Apa yang dikatakan dokter Riki sama saja dengan dokter Elly. Hanya saja internis lebih berani memberi obat. Saya diberi resep Lesichol dan Hepamax. Selain itu juga
diberi pengantar untuk test darah untuk mengetahui virus apa. Selain itu, satu minggu setelah test darah yang pertama (tgl 11/10) saya harus kembali dengan hasil test darah untuk mengecek fungsi hati.

Ya sudah. Setelah melewati apa yang harus dilewati saya bisa beristirahat dengan tenang. Hari-hari saya setiap hari diisi dengan makan dan tidur dan melamun saja.
Nonton TV dan baca-baca juga. Hari Senin (8/10) hasil test virus sudah diambil, kayaknya sih Hepatitis A, tetapi belum dikonfirmasikan dengan dokter. Sekalian saja hari Kamis (11/10) setelah saya test darah yang kedua.

Hari Kamis yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Pagi-pagi saya pergi ke Prodia untuk test darah. Lalu malam ke dokter Riki. Pertama, confirmed hepatitis A. Kedua, hasil
GOT saya sudah turun drastis, menjadi hanya 87. GPT malah naik menjadi 291. Dan beberapa unsur kimia lain juga masih di atas normal. Saya tanya dokter apa artinya,
dia cuman bilang, saya masih perlu istirahat lagi.

Dokter di Indonesia memang suka begitu deh. Enggak memberi banyak info kalau tidak ditanya. Tahunya ngasih resep doang dan suruh test darah. Habis itu hasil test-nya
tidak diceritain, dia cuman ngasih resep lagi berdasarkan itu. Untuk banyak pertanyaan yang ada, kita harus cari sendiri di Internet. Untunglah saya sudah hidup di zaman Internet. Teringat dulu waktu kakak saya sakit hepatitis B, saya disuruh cari info di perpustakaan kampus. Wah repot sekali.

Kondisi saya hari ini sudah sangat baik. Wajah masih sedikit kuning, mata juga masih ada sedikit kekuningan. Oya, bilirubin total saya tadi sudah turun jadi 3,79. Masih
belum normal, tapi udah turun banyak. Saya yakin saya sudah memasuki masa penyembuhan. Bahkan saya merasa saya sudah sembuh!!

Hanya saja, seperti kata dokter, saya masih harus istirahat. Karena itu, saya minta maaf, terutama pada teman-teman kantor, bahwa saya masih harus istirahat hingga
tanggal 20. Sayangnya kantor saya tidak mengikuti cuti bersama dari pemerintah yang diperpanjang hingga tanggal 19. Kalau ikut kan saya tidak perlu terlalu banyak madol.

Meskipun begitu, saya bersyukur kena penyakit ini pada masa Lebaran. Karena pada saat-saat ini sudah banyak yang cuti dan kesibukan kantor menurun. Saya bisa istirahat tanpa banyak gangguan dari kantor.

Biaya

Biaya untuk penyakit ini cukup banyak:

1. Dokter umum (2 kali) Rp 100.000
2. Prodia cek penyebab demam Rp 190.000
3. Obat dari dokter umum Rp 110.000
4. Internis Rp 125.000
5. Cek darah (virus Hepatitis) Rp 575.000
6. Obat dari internis Rp 292.000
7. Prodia cek fungsi hati Rp 252.000
8. Internis (2) Rp 125.000
9. Obat (2) Rp 417.000

So far sudah habis Rp 2,176,000 belum termasuk cek ke Prodia yang harus saya lakukan nanti tanggal 18/10 untuk kontrol fungsi hati sudah normal atau belum. Diperkirakan total biaya Rp 2,5 juta belum termasuk transportasi ke dokter, makanan sehat, dll. Untung saya bisa istirahat di rumah, sehingga tidak perlu rawat inap.

Bayangkan berapa biayanya ditambah rawat inap huhuhu... Untunglah saya baru terima THR sehingga tidak ada masalah keuangan.

Biaya kerugian yang tidak langsung kemungkinan jauh lebih besar dari itu. Cost of absence saya dari tempat kerja, salah satunya. Makanya, jangan sampai sakit deh. Dan
saya juga sarankan untuk kantor-kantor yang mampu agar melakukan vaksinasi hepatitis kepada karyawannya.

Jadi seperti apa sih Hepatitis A itu? Now I know.

4 comments:

  1. Anonymous7:12 PM

    hepatitis nya sdh gmana bu?

    ReplyDelete
  2. Terima kasih anonymous, sekarang saya sehat-sehat kok !

    thanks
    mei

    ReplyDelete
  3. SGOT SGPT saya sekarang nilai 200 lebih semua, & Dr. saya menyarankan minum HP Pro,...klo boleh tau berapa X sehari minum nya ya itu obatnya?

    ReplyDelete
  4. Selanjutnya saya bantu denga minum AIR OXY CJDW,.....

    ReplyDelete