Monday, November 11, 2019

Tiga Hal Menarik Ketika Mengunjungi Museum Benteng Heritage Tangerang





Museum Benteng Heritage diresmikan pada tanggal 11 November 2011, tepat delapan tahun yang lalu. Museum yang menyimpan beberapa warisan budaya Peranakan Tionghoa Tangerang ini berada di dalam Pasar Lama Tangerang.

Cara mengakses museum ini adalah melalui Pasar Lama Tangerang yang rupanya sekarang telah menjadi salah satu pusat kuliner baru. Di pintu gerbang masuk tertulis “Kawasan Kuliner Pasar Lama”. Tak jauh dari pintu gerbang itu, carilah sebuah gang kecil yang menuju kelenteng Boen Tek Bio. Dari kelenteng belok kanan ke sebuah gang kecil lagi, dan di sanalah lokasi Museum Benteng Heritage (MBH) yang merupakan sebuah rumah lama yang beralih fungsi menjadi museum.

Museum ini dikelola oleh swasta dan didirikan oleh Udaya Halim. Tiket masuk Rp 30,000 sudah termasuk penjelasan dari seorang guide. Beberapa bagian dari rumah lama yang didirikan pada tahun 1700-an itu masih dipertahankan, seperti lantai dari terra kota, dinding batu, serta kayu ulin yang menjadi penyangga. Beberapa lukisan yang dibuat berdasarkan foto dari masa lalu membawa kita ke jalan-jalan di sekitar Pasar Lama Tangerang pada masa penjajahan Belanda. Koleksi-koleksi museum yang disertai penjelasan dari guide juga membawa kita travelling ke abad 15 ketika Laksamana Cheng Ho datang ke Semarang, dan katanya menuju Palembang, dan melewati Tangerang. Kita juga akan belajar mengapa orang-orang Tionghoa di Tangerang sering juga disebut Cina Benteng. Koleksi-koleksi museum seperti timbangan-timbangan, radio, meja belajar lama, patung-patung dewa Tionghoa, dan sebagainya.



Setidaknya ada tiga hal yang paling menarik buat saya pribadi, yaitu:

1.     Pintu rumah orang Tionghoa pada zaman dulu, yang terbuat dari kayu, dan hanya bisa dikunci dari dalam. Pada waktu itu belum ditemukan kunci dari luar, sehingga rumah tidak boleh kosong. Setidaknya harus ada satu orang yang jaga rumah untuk membukakan pintu dari dalam. Mereka juga membuat kunci dari kayu dengan menambahkan unsur rahasia sehingga hanya orang yang tahu rahasianya yang dapat membuka pintu tersebut. Sayangnya di dalam museum kita tidak diperbolehkan mengambil foto, sehingga saya tidak bisa menampilkan foto pintu yang saya maksud. Guide mengunci pintu dengan kedua palang, dan menyuruh para audience mencoba membukanya. Dan ternyata tidak ada yang bisa membuka pintu itu. Rupanya ada rahasia tertentu… ada suatu tombol di dalam yang (seharusnya) hanya diketahui oleh pemilik rumah. Teknologi yang sederhana namun cukup canggih untuk masa itu.

2.     Masih seputar teknologi. Saya cukup terpesona melihat sebuah box kecil dari kayu yang dipahat dengan rapi, yang ditempatkan di sisi sebuah ranjang pengantin di dalam museum. Apakah box ini? Tidak ada yang bisa menebak. Terlihat seperti kotak harta atau untuk menyimpan sesuatu yang berharga. Di bawah kotak tersebut juga dipasangkan roda, yang membuatnya mudah dipindahkan atau digerakkan. Ternyata box itu adalah sebuah toilet portable. Pada zaman dulu, orang Tionghoa tidak boleh membuat toilet di dalam rumah. Karena itu mereka membuat toilet portable ini agar tidak repot bila harus buang air di malam hari. Ketika dibuka, di dalam box itu terdapat bentuk dudukan toilet (yang dibawahnya diletakkan sebuah pispot) serta di sisinya terdapat lubang-lubang untuk menaroh botol air. Sebuah design yang sederhana tetapi menurut saya ini adalah sebuah teknologi yang memudahkan kehidupan manusia.

3.     Saya juga baru tahu bahwa di setiap kelenteng selalu ada dua patung singa di depannya. Yang satu adalah jantan, dan satunya betina. Nah bagaimana membedakannya? Perhatikan pada kakinya. Di bawah kaki singa yang jantan, terdapat bola dunia. Artinya tugas laki-laki adalah mencari nafkah untuk keluarga. Di bawah kaki singa yang betina, terdapat seekor singa kecil. Artinya tugas perempuan adalah mengasuh anak. Nah menarik bukan?

Masih banyak hal menarik lainnya yang dapat ditemukan dengan mengunjungi Museum Benteng Heritage ini. Tidak disangka-sangka, di dalam sebuah pasar terdapat sebuah museum, yang dikelola dengan cukup professional. Setelah mengunjungi museum, kita dapat menikmati kulineran di Pasar Lama, serta membeli oleh-oleh kecap yang terkenal di Tangerang, yaitu kecap SH yang merupakan salah satu kecap tertua di Tangerang (sejak 1920). Ini bisa menjadi sebuah paket pengalaman wisata yang menarik. 

No comments:

Post a Comment