Jiro, Ikigai, Flow dan Hidup Hingga 100 Tahun

©Magnolia Pictures/Courtesy Everett Collection



“Once you decide on your occupation... you must immerse yourself in your work. You have to fall in love with your work. Never complain about your job. You must dedicate your life to mastering your skill. That's the secret of success...and is the key to being regarded honorably.” – Jiro Ono


Film dokumenter Jiro Dreams of Sushi dibuka dengan pembukaan yang sangat kuat yaitu Pak Jiro sendiri yang memberikan nasihat di atas. Kutipan yang disampaikan dalam bahasa Jepang itu adalah resep kesuksesan sang Legenda Sushi tersebut. Bila kita menonton film berdurasi 1 jam 21 menit tersebut, memang terlihat bagaimana pemilik restoran sushi yang sering disebut termahal di dunia ini mendedikasikan hidupnya untuk membuat sushi yang terbaik. 


Jiro Ono, pria kelahiran tahun 1925, saat syuting film dokumentar tentang hidupnya, berusia 85 tahun. Pada usia tersebut, beliau masih bekerja, menjadi kepala chef di restorannya yang tak pernah sepi. Walau dipatok dengan harga per orang dimulai dari 30.000 yen, dan pelanggan harus melakukan reservasi satu bulan sebelumnya, tetap saja orang-orang mengantri untuk mencoba makan di sini. Sushi Jiro mendapat berbagai penghargaan termasuk rating three stars Michelin. Perdana Menteri Shinzo Abe dan Presiden AS Barack Obama pernah makan di sini dan Obama menyebut sushi Jiro adalah sushi terbaik yang pernah dimakannya. 


Selain mengintip dapur restoran sushi termahal di dunia, film Jiro Dreams of Sushi juga mengantar kita mengikuti perjalanan hidup Jiro Ono dan kedua putranya yang juga adalah koki sushi. Kutipan di atas seolah menjadi kesimpulan dari film, yang merupakan rahasia sukses Jiro. Rahasia ini juga berlaku untuk kita semua. Apabila kita ingin sukses, maka pilihlah suatu pekerjaan yang dapat membuat kita jatuh cinta pada pekerjaan tersebut, lalu bertekunlah untuk membangun keahlian di sana.


Tapi tunggu dulu, apakah Jiro bisa dikatakan sukses? Beliau tidak mengendarai mobil mewah atau hidup berfoya-foya layaknya sultan. Beliau tidak memiliki harta berlimpah, namun beliau sukses, selain karena mendapat pengakuan dunia akan hasil karyanya, juga terutama karena beliau begitu bahagia menjalani setiap hari hidupnya. Setiap pagi Jiro pergi ke pasar untuk membeli ikan, lalu menyiapkan hidangan sushi terbaik di restorannya. Setiap pagi dia bahkan selalu naik kereta pada jam yang sama dan duduk di tempat yang sama. Ia menjalani rutinitas seperti itu setiap hari tanpa pernah libur. Tokonya tidak pernah tutup, kecuali ada acara penting seperti pemakaman. Jiro dapat dikatakan telah menemukan Ikigai-nya.


Francesc Miralles dan Hector Garcia menulis dalam buku Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life, bahwa baik Jiro maupun putranya adalah seniman kuliner. Mereka tak pernah bosan ketika mereka memasak --- mereka mencapai kondisi flow. Mereka menikmati diri mereka sepenuhnya ketika berada di dapur; itulah kebahagiaan mereka, ikigai mereka. 


Dalam film Jiro Dreams of Sushi juga diceritakan tentang seorang anak magang Jiro yang belajar membuat tamagoyaki (semacam omelet di atas sushi). Betapa pun ia mencoba, tamagoyaki buatannya tak pernah disetujui Jiro. Dia terus berlatih hingga bertahun-tahun hingga mendapatkan persetujuan Jiro. Mengapa anak magang ini tidak menyerah? Mengapa ia tidak bosan memasak telur setiap hari? Karena membuat sushi juga merupakan ikigai-nya. 


Ikigai adalah suatu kata yang misterius. Bila Anda masukkan ke dalam google translate, maka terjemahan Bahasa Indonesia-nya adalah: alasan untuk hidup. Menurut orang-orang Jepang, setiap orang memiliki ikigai, atau apa yang disebut filsuf Perancis raison d'ĂȘtre (alasan, tujuan). Ikigai bisa disamakan dengan tujuan atau makna hidup seperti dalam aliran logotherapy Victor Frankl. Aliran psikologi ini bertujuan membantu orang menemukan tujuan hidup mereka. Bila Anda telah menemukan makna hidup, ikigai Anda, maka Anda tidak akan pernah mengeluh dalam pekerjaan Anda. 


Kembali ke cerita Jiro, bagaimana Jiro tahu membuat sushi adalah ikigai-nya? Bagaimana kita tahu cara menemukan ikigai kita? Ini salah satu clue, dan hal ini terdapat pula dalam film dokumenter yang disebut di atas walaupun tidak terlalu ditonjolkan, bahwa: dalam tidurnya pun, Jiro bermimpi membuat sushi. Sering ia mempertanyakan, apa yang disebut dengan Oishi (lezat)? Ia tak pernah puas dan selalu menantang dirinya untuk membuat sushi yang lebih baik. “Even at my age, in my work... I haven't reached perfection,” kutipan Jiro dalam film. 


Jiro mulai membuat sushi pada usia tujuh tahun dan memulai karir sebagai koki sushi pada usia 25 tahun. Berarti, ia telah membuat sushi lebih dari 70 tahun dan masih belum puas akan hasil karyanya. 


Clue yang dapat Anda gunakan untuk menemukan Ikigai Anda, pertama adalah mimpi. Clue kedua adalah keinginan untuk terus belajar dan menguasai suatu keahlian tersebut. Ketiga, kata-kata ini sudah sempat disebutkan di atas namun belum dijelaskan, adalah flow.  


Konsep flow dipopulerkan oleh psikolog Mihaly Csikszentmihalyi. Ia terus mempertanyakan apa yang membuat kita bisa begitu menikmati suatu pekerjaan hingga lupa waktu dan lupa segalanya? Ia pun secara khusus meneliti kondisi atau pengalaman dimana kita sepenuhnya membenamkan diri dalam apa yang sedang kita kerjakan. Csikszentmihalyi pun menyebut kondisi ini sebagai “flow” yang dideskripsikan sebagai kesenangan, suka cita, kreativitas, dan proses ketika kita sepenuhnya membenamkan diri (dalam mengerjakan sesuatu).


Flow adalah kondisi di mana seseorang begitu terhanyut dalam suatu aktivitas sehingga hal lain seperti tidak penting, pengalaman tersebut sendiri begitu menyenangkan sehingga mereka akan mengerjakan hal tersebut tanpa tujuan tertentu, hanya karena mereka senang mengerjakannya. Nah, coba teliti aktivitas apa yang Anda kerjakan yang dapat membuat Anda dalam kondisi “flow”? Mungkin saja hal itu bisa membantu Anda menemukan Ikigai Anda.


Dalam kesimpulan bukunya Francesc Miralles dan Hector Garcia menulis bahwa: Ikigai setiap orang berbeda-beda, namun satu hal yang sama adalah kita semua mencari makna hidup. Ketika kita mengerjakan sesuatu yang bermakna, maka kehidupan kita terasa penuh. Ketika kita sibuk mengerjakan apa yang kita sukai dan dikelilingi orang-orang yang mencintai kita, jangan heran mungkin kita bisa hidup hingga 100 tahun!


Dalam riset penulisan buku Ikigai Miralles dan Garcia menghabiskan waktu di desa Ogimi. Ogimi yang berada di Prefecture Okinawa disebut sebagai Village of Longevity, memiliki populasi centenarians (orang yang berusia 100 tahun ke atas) terbanyak di dunia, dan mendapatkan rekor Guinness untuk umur panjang. Di Ogimi, berusia 80 tahun masih dianggap anak-anak. Miralles dan Garcia menemukan, orang-orang tua berusia di atas 80 tahun ini masih sangat aktif. Mereka tidak menghabiskan waktu mereka duduk di rumah saja atau membaca koran. Mereka banyak berjalan, bernyanyi, mengobrol dengan tetangga, atau berkebun. Mungkin inilah salah satu rahasia berumur panjang. Dan ternyata Ikigai bila diterjemahkan dengan kasar dapat berarti “the happiness of always being busy.” 


Sebagai kesimpulan bukunya, Miralles dan Garcia memberikan 10 aturan Ikigai (10 Ikigai rules) yang merupakan rahasia berumur panjang dan hidup bahagia orang-orang Jepang.


1. Stay active; don’t retire

2. Take it slow

3. Don’t fill your stomach

4. Surround yourself with good friends

5. Get in shape for your next birthday

6. Smile

7. Reconnect with nature

8. Give thanks

9. Live in the moment

10. Follow your ikigai


Bila Anda belum tahu apa ikigai Anda, seperi kata Viktor Frankl, maka misi Anda adalah untuk menemukannya. 









Comments

  1. Lovee banget tulisannyaa

    ReplyDelete
  2. thank you shin :)

    ReplyDelete
  3. Anonymous11:46 AM

    hidup seabad? wow...
    thanks insightnya, min...

    ReplyDelete
  4. hi anonymous,
    why not? ;)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pengalaman Memperpanjang Paspor Januari 2021

Panduan Transportasi ke Guci Tegal Menggunakan Kendaraan Umum 2022

Road Trip New Zealand